TASIKMALAYA MA – Polemik Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di sejumlah dapur MBG Kecamatan Tanjungjaya, Kabupaten Tasikmalaya, terus menjadi sorotan publik. Program yang semula diharapkan menjadi solusi pengelolaan limbah kini justru memunculkan keresahan warga akibat dugaan pencemaran lingkungan dan isu intimidasi terhadap masyarakat yang menyampaikan keluhan.
Koordinator SPPG Dapur Tanjungjaya, Fahmi, mengakui sempat terjadi kebocoran limbah sekitar dua pekan lalu. Namun, ia menegaskan pihak pengelola telah melakukan perbaikan pada dua titik saluran IPAL.
“Informasi dari dapur, jalur limbah sudah diperbaiki,” ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (08/05/2026).
Fahmi juga membantah tudingan adanya intimidasi oleh bodyguard terhadap warga. Menurutnya, komunikasi dengan masyarakat tetap berjalan baik dan pengelola telah berupaya memastikan limbah tidak lagi mencemari lahan sekitar.
“Kondisi di SPPG 1 dan 2 sekarang sudah bersih dari pencemaran,” katanya.
Pernyataan serupa disampaikan Aslap SPPG Sukanagara 1, Dendi. Ia mengakui kebocoran limbah memang sempat terjadi, namun proses perbaikan masih berlangsung.
“Perbaikan tinggal satu tahap lagi,” ujarnya.
Dendi juga menepis dugaan intimidasi terhadap warga. Ia menilai persoalan tersebut kemungkinan hanya kesalahpahaman.
“Kami sudah memastikan limbah tidak meluber ke kebun warga,” tambahnya.
Namun di lapangan, keluhan warga masih terus bermunculan. Investigasi tim di sejumlah titik menemukan persoalan IPAL tidak hanya terjadi di wilayah Tanjungjaya. Di beberapa desa lain, termasuk Cilolohan, warga mengaku limbah IPAL diduga dialirkan ke parit yang bermuara ke sungai.
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran akan dampak pencemaran yang lebih luas terhadap lingkungan dan sumber air warga.
Warga Desa Sukanagara menyebut fasilitas IPAL yang semestinya menjadi solusi justru berubah menjadi sumber persoalan baru. Bau menyengat, air sumur berubah keruh, hingga keresahan sosial mulai dirasakan masyarakat sekitar dapur MBG.
Abah Ipin mengaku mengalami tekanan setelah menyampaikan protes terkait kondisi air sumur yang berubah keruh keputihan. Ia mengklaim mendapat bentakan dari pihak bodyguard saat menyampaikan keluhan.
“Kami hanya ingin air bersih, tapi malah diintimidasi,” ujarnya, Jumat (21/04/2026).
Akibat kondisi tersebut, sejumlah warga disebut terpaksa mencari sumber air bersih dari lokasi lain yang lebih jauh dari permukiman mereka.
Sementara itu, Forum Masyarakat Peduli Lingkungan Tasik Raya menilai pengelolaan limbah MBG belum berjalan maksimal. Koordinator FMPL, M. Maulid Sidik, menyebut pihaknya akan terus mengawal persoalan tersebut.
“Kami tidak akan tinggal diam. FMPL siap turun ke jalan,” tegasnya saat ditemui Tim awak Media.
Ketua FMPL, Shopian Nursyamsi menambahkan, audiensi yang digelar pekan lalu dinilai belum menghasilkan solusi konkret. Ia menyebut FMPL berencana menghadirkan pejabat terkait hingga anggota DPRD dalam forum terbuka pekan depan guna meminta kejelasan penanganan persoalan limbah IPAL tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, pihak pengelola MBG, otoritas Kecamatan Tanjungjaya, maupun Satgas MBG Kabupaten Tasikmalaya belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan pencemaran dan isu intimidasi yang berkembang di masyarakat.
Yusrizal