Dari Ruang Kelas Menuju Balai Desa, Dede Yasin Menyulam Asa untuk Jayamekar.

Agus Sulanto
0



SUMEDANG MA – Ada jejak-jejak pengabdian yang tidak pernah benar-benar berakhir. Ia hanya berpindah tempat, dari ruang kelas menuju ruang-ruang musyawarah, dari papan tulis menuju halaman-halaman desa. 
Begitulah perjalanan Dede Yasin Jamahsari, S.Pd., sosok pendidik yang selama 39 tahun mengabdikan hidupnya untuk mencerdaskan generasi bangsa dan kini bersiap melanjutkan pengabdian sebagai bakal calon Kepala Desa Jayamekar.
Hampir empat dekade, Dede Yasin menjalani profesinya sebagai Aparatur Sipil Negara. Selama 24 tahun ia berdiri di depan kelas sebagai guru, menanamkan ilmu sekaligus membentuk karakter anak-anak. Pengabdiannya dimulai di SDN Cijaha, berlanjut ke SDN Sukamanah, kemudian SDN Cibugel, tempat ribuan langkah kecil pernah mengawali mimpi mereka.
Perjalanan itu kemudian membawanya memikul amanah yang lebih besar. Sejak 2010, ia dipercaya menjadi Kepala SDN Cicadas, lalu melanjutkan kepemimpinan di SDN Cidomas hingga memasuki masa purnabakti pada tahun 2025.
Namun bagi Dede Yasin, pensiun bukanlah garis akhir. Justru pengalaman panjang yang telah ditempa waktu menjadi bekal untuk mengabdi lebih luas kepada masyarakat.
Kiprahnya tidak hanya berhenti di lingkungan sekolah. Ia juga aktif membangun dunia pendidikan melalui organisasi Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S). Sejak 2014 dipercaya memimpin K3S tingkat kecamatan, kemudian menjabat Wakil Ketua K3S Kabupaten Sumedang periode 2016–2021, Ketua K3S Kabupaten Sumedang periode 2021–2025, hingga dipercaya menjadi Ketua K3S Provinsi Jawa Barat sejak 2018.
Pengalaman memimpin di berbagai tingkatan itulah yang kini ingin ia persembahkan bagi masyarakat Desa Jayamekar.
Dengan mengusung visi "Jayamekar MASLAHAT"—Maju dan Sejahtera, Pelayanan yang profesional,Harmonis, Akuntabel, dan Transparan—Dede Yasin menawarkan gagasan tentang pemerintahan desa yang bukan hanya bekerja, tetapi juga melayani dengan hati.
Baginya, desa yang maju lahir dari kepemimpinan yang mampu mendengar, merangkul, dan membuka ruang partisipasi bagi seluruh masyarakat. Pelayanan publik harus dilakukan secara profesional, pengelolaan anggaran harus transparan, sementara potensi ekonomi dan sumber daya manusia desa perlu terus dikembangkan agar kesejahteraan dapat dirasakan bersama.
"Pengalaman saya selama puluhan tahun mendidik dan memimpin menjadi modal untuk membangun Desa Jayamekar. Saya ingin menghadirkan pemerintahan desa yang melayani dengan hati, transparan dalam pengelolaan, serta mampu mendorong kesejahteraan masyarakat melalui semangat kebersamaan," ujar Dede Yasin.
Bagi Dede Yasin, seorang guru tidak pernah benar-benar berhenti mengajar. Nilai-nilai kejujuran, kedisiplinan, kebersamaan, dan kepedulian yang selama ini ditanamkan kepada peserta didik kini ingin ia hadirkan dalam tata kelola pemerintahan desa.
Ia percaya, Jayamekar memiliki potensi besar untuk tumbuh menjadi desa yang maju tanpa kehilangan jati dirinya. Dengan semangat gotong royong dan kepemimpinan yang terbuka, ia berharap dapat mengajak seluruh elemen masyarakat berjalan dalam satu langkah menuju masa depan yang lebih baik.
Sebab pada akhirnya, pengabdian bukan sekadar tentang jabatan. Pengabdian adalah tentang meninggalkan jejak kebaikan yang terus hidup di tengah masyarakat. Dan setelah 39 tahun menyalakan cahaya pendidikan, Dede Yasin kini ingin menerangi Jayamekar dengan semangat MASLAHAT—mewujudkan desa yang maju, sejahtera, harmonis, akuntabel, dan transparan untuk semua.
(Edy ms).
Tags

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)