Baznas Sumedang Gerakan Kepedulian, Donasi Untuk Korban Banjir Bandang Aceh-Sumatera Melonjak

Agus Sulanto
0

SUMEDANG MA- Duka yang datang dari Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat seolah menjalar hingga ke tanah Priangan. Banjir bandang yang menyapu ribuan rumah, merenggut banyak nyawa, dan memaksa ribuan warga mengungsi tak hanya meninggalkan lumpur dan puing, tetapi juga meninggalkan gema kepiluan yang terasa hingga Sumedang. Jarak ribuan kilometer tak mampu meredam rasa sepenanggungan yang tumbuh di hati masyarakat.

BAZNAS Sumedang, melalui kepemimpinan H. Ayi Subhan Hafas, merespons cepat gelombang duka tersebut. Begitu kabar kerusakan dan korban terus berdatangan, lembaga itu langsung membuka donasi bagi para muzaki agar dapat mengulurkan tangan membantu saudara-saudara sebangsa yang tengah dirundung kesulitan. Inisiatif itu bukan sekadar ajakan, tetapi panggilan kemanusiaan yang mengetuk kesadaran bersama bahwa bencana di ujung negeri adalah juga tanggung jawab moral seluruh anak bangsa.

Respons masyarakat Sumedang datang deras dan tulus. Dalam hitungan hari, hingga 11 Desember 2025, donasi telah mencapai ratusan juta rupiah. Angka itu bukan hanya catatan administratif, tetapi cermin bahwa nilai gotong royong warisan luhur bangsa masih mengalir kuat, tak peduli zaman terus bergerak dan tantangan hidup kian beragam.

“Ini bukan soal jumlahnya, tetapi soal hati yang tergerak,” ujar Ketua BAZNAS Sumedang, H. Ayi Subhan Hafas. “Kami melihat masyarakat Sumedang menunjukkan solidaritas yang begitu besar. Setiap donasi adalah wujud cinta dan kepedulian untuk saudara kita yang sedang diuji. Nilai seperti inilah yang membuat bangsa ini tetap kokoh, bahkan dalam masa-masa paling sulit.”

Ayi menegaskan bahwa dana yang terkumpul akan digunakan sepenuhnya untuk memenuhi kebutuhan mendesak para korban, mulai dari logistik, obat-obatan, kebutuhan anak-anak, hingga bantuan awal pemulihan. Ia menyebut, setiap rupiah adalah doa, dan setiap bantuan adalah tangan yang mengangkat beban mereka walau hanya sedikit.

“Harapan kami, bantuan ini tidak hanya meringankan beban fisik para penyintas, tetapi juga menguatkan hati mereka bahwa mereka tidak sendirian,” katanya.

Di tengah suasana bencana yang masih menyisakan kesedihan panjang, Sumedang mengirimkan pesan yang sederhana namun kuat, bahwa kemanusiaan tidak mengenal jarak administratif maupun batas provinsi. Bahwa ketika satu bagian negeri tersungkur, bagian lain berdiri menopang.

Dan di antara gelapnya puing dan lumpur yang menyelimuti tiga provinsi itu, Sumedang menyalakan secercah cahaya empati yang mungkin kecil, tetapi hangat dan berarti bagi mereka yang sedang berjuang untuk bangkit kembali.

( Edy ms,)
Tags

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)