*
*Penajam, Metro Aktual Kaltim* – Memasuki musim kemarau ekstrem yang meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan Karhutla, Tim Pengendali Karhutla UPTD KPHP Telake Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Timur bersama Dinas Pertanian Kabupaten Penajam Paser Utara PPU turun langsung memeriksa kesiapan SDM, sarana dan prasarana di sejumlah titik rawan.
Pemeriksaan dilakukan sebagai langkah pencegahan dan kesiapsiagaan. Targetnya memastikan perusahaan pemegang perizinan dan pengelola kawasan benar-benar siap sebelum api muncul.
*Cek Langsung Personel, Peralatan, Menara Api hingga Sumber Air*
Tim menyisir lapangan untuk mengecek 5 poin utama:
1. *Kesiapan personel*: jumlah pasukan, pembagian tugas, kemampuan deteksi dini dan pemadaman awal
2. *Peralatan pemadaman*: pompa, selang, kendaraan operasional, alat manual dan kelengkapannya
3. *Menara pemantauan*: kondisi menara api untuk memantau titik asap
4. *Sumber air*: embung, kapasitas, akses dan peralatan pendukung untuk menyalurkan air
5. *Kondisi bahan bakar*: vegetasi kering, semak, serasah yang berpotensi mempercepat penyebaran api
*“Kesiapsiagaan Harus Dibangun Sebelum Api Muncul”*
Kepala UPTD KPHP Telake, Shahar Al Haqq, menegaskan kesiapan tidak bisa ditunda sampai terjadi kebakaran.
“Kesiapsiagaan harus dibangun sebelum terjadi kebakaran. Jangan sampai ketika api sudah membesar, kita baru kalang-kabut mempersiapkan personel, peralatan maupun sumber air. Semuanya harus siap sejak awal,” ujar Shahar, Rabu 19 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, saat kemarau vegetasi dan material kering sangat mudah terbakar. Api kecil bisa jadi besar dalam hitungan menit jika tidak segera ditangani.
“Karena itu kemampuan mendeteksi dan melakukan pemadaman awal sangat menentukan. Beberapa menit pertama setelah api diketahui bisa mencegah kebakaran meluas,” jelasnya.
*Sumber Air dan Bahan Bakar Jadi Fokus*
Menurut Shahar, keberadaan sumber air harus sudah dipetakan sejak awal. “Begitu terjadi kebakaran, kita tidak boleh lagi sibuk mencari di mana sumber air atau memastikan apakah peralatannya bisa digunakan,” tegasnya.
Tim juga mendorong pengelola kawasan melakukan pengelolaan bahan bakar, pembersihan di titik rawan, pembuatan sekat bakar, serta meningkatkan intensitas patroli dan pemantauan.
*Kesiapan Perusahaan Kunci Pengendalian Karhutla*
Shahar mengingatkan pengendalian Karhutla adalah tanggung jawab bersama pemerintah, perusahaan, masyarakat, aparat dan kelompok peduli api.
“Jangan melihat kesiapan Karhutla hanya sebagai kewajiban administratif. Ini kebutuhan nyata di lapangan. Ketika terjadi kebakaran, yang kita butuhkan adalah personel yang siap, peralatan yang berfungsi dan sumber air yang tersedia,” katanya.
Prinsip yang ditekankan tim: *Cegah, Deteksi Dini, dan Padamkan Sedini Mungkin*. Semakin cepat ditangani, semakin kecil dampaknya ke lingkungan, masyarakat dan ekonomi.
*Masyarakat Diimbau Tidak Bakar Lahan Sembarangan*
Masyarakat juga diminta waspada selama kemarau. Jangan melakukan pembakaran lahan sembarangan. Jika melihat asap atau indikasi kebakaran, segera laporkan ke pihak terkait agar bisa ditindaklanjuti.
Dengan kolaborasi semua pihak, diharapkan ancaman Karhutla di PPU dapat ditekan selama periode kemarau 2026.
*“CEGAH KARHUTLA SEBELUM TERJADI. BANGUN KESIAPSIAGAAN SEJAK DINI, SEBELUM API MENJADI BENCANA.”*
*ID: 11106/Red-MA/24*