Metroaktual news com
Dalam sebuah pemaparan yang menggugah, Achmad Mulyadi, S.Sos.I., M.Si., menyampaikan analisis tajam mengenai kondisi birokrasi saat ini. Ia mengulas fenomena reformasi birokrasi yang kerap kali hanya bersifat permukaan—“mengubah kulit”, namun tidak menyentuh substansi, bahkan dalam beberapa kasus justru menambah kerumitan melalui regulasi yang semakin kaku.
Mengusung tema “Penyederhanaan yang Disederhanakan”, Achmad Mulyadi menekankan bahwa perubahan yang terjadi selama ini sering kali kehilangan makna.
“Kita sibuk menyederhanakan bentuk, namun lupa mentransformasikan makna,” ujarnya.
Ironi antara Struktur dan Fungsi
Reformasi birokrasi sejatinya bertujuan untuk memangkas sistem yang berbelit. Namun dalam praktiknya, perubahan dari jabatan struktural ke fungsional sering kali hanya sebatas pergantian label, tanpa diiringi
perubahan pola pikir.
Kondisi ini berdampak pada pergeseran orientasi, di mana bukan lagi kompetensi yang menjadi pertimbangan utama, melainkan sekadar pengisian formasi yang tersedia. Regulasi menjadi prioritas, sementara kualitas sumber daya manusia kerap terabaikan.
Angka Kredit sebagai “Mata Uang”
Fenomena lain yang disoroti adalah kecenderungan ASN dalam menjadikan angka kredit sebagai tujuan utama. Aktivitas seperti mengumpulkan poin, menyusun portofolio, dan mengikuti uji kompetensi memang penting, namun sering kali melupakan esensi utama dari jabatan fungsional itu sendiri.
Padahal, jabatan fungsional semestinya berfokus pada kemampuan berpikir dan berkarya, bukan sekadar pengumpulan dokumen administratif. Kenaikan pangkat pun idealnya merupakan konsekuensi dari kontribusi nyata, bukan sekadar hasil dari akumulasi angka atau masa tunggu.
Sistem Kaku di Tengah Dunia yang Dinamis
Achmad Mulyadi juga menyoroti masih kuatnya paradigma lama dalam birokrasi, seperti penekanan pada kelengkapan berkas, kepatuhan prosedural, dan faktor usia. Sementara itu, dunia di luar birokrasi telah bergerak menuju sistem yang lebih modern, berbasis pada:
kemampuan nyata (skill-based),
dampak hasil kerja (impact-based),
serta kolaborasi lintas bidang (collaborative).
Transformasi Pola Pikir sebagai Kunci
Ia menegaskan bahwa yang perlu disederhanakan bukan hanya struktur organisasi, melainkan juga cara berpikir dalam birokrasi itu sendiri. Reformasi sejati tidak cukup hanya dengan merombak sistem, tetapi harus mampu mengubah mindset.
Jabatan fungsional, menurutnya, adalah bentuk orkestrasi keahlian, bukan sekadar alternatif dari jabatan struktural. Birokrasi pun seharusnya hadir untuk melayani dan memecahkan masalah, bukan hanya
menjalankan prosedur administratif.
Melalui pemaparan ini, Achmad Mulyadi mengingatkan seluruh ASN, baik yang sudah maupun yang sedang meniti jalur fungsional, agar tidak terjebak menjadi “birokrat administratif”. Sebaliknya, mereka diharapkan mampu menjadi profesional yang berdaya guna dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Sumber berita
Achmad Mulyadi S.Sos .I M.Si
Kepala Tata usaha MAN 17 Jakarta
Red Agus