Sumedang MA, Wakil Bupati Sumedang M. Fajar Aldila mengajak para santri untuk menjauhi segala bentuk perundungan (bullying) dan menjadi pelopor kebaikan di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan saat membuka Haflah Akhirussanah Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) Ula se-Kecamatan Jatinangor Tahun 2026 di GOR Futsal ITB Jatinangor, Minggu (14/6/2026).
Di hadapan ratusan santri, orang tua, dan tenaga pendidik, Wabup Fajar menegaskan bahwa bullying merupakan perilaku yang tidak boleh dianggap sepele karena dapat meninggalkan luka psikologis yang mendalam bagi korbannya.
"Saya titip kepada anak-anakku semua, jangan sampai ada perundungan atau bullying. Hormati teman, sayangi teman, dan saling membantu satu sama lain," ujarnya.
Menurut Fajar, setiap anak memiliki potensi dan kelebihan masing-masing sehingga tidak ada alasan untuk merendahkan ataupun mengejek orang lain.
Ia mengingatkan bahwa seseorang yang saat ini menjadi korban perundungan bisa saja menjadi sosok yang sukses dan berperan penting di masa depan.
"Kita tidak pernah tahu siapa yang akan menjadi penolong kita di masa depan. Karena itu jangan pernah meremehkan, menghina, atau menyakiti teman sendiri," katanya.
Fajar menilai pendidikan karakter yang ditanamkan melalui madrasah diniyah memiliki peran penting dalam membentuk generasi yang berakhlak mulia, memiliki empati, serta mampu menghargai sesama.
Menurutnya, santri harus menjadi contoh dalam menebarkan nilai-nilai Islam yang mengajarkan kasih sayang, persaudaraan, dan saling menghormati.
"Santri harus menjadi generasi yang berlomba-lomba dalam kebaikan, bukan saling menjatuhkan. Jadilah anak-anak yang membawa manfaat bagi lingkungan dan menjadi teladan bagi teman-temannya," tuturnya.
Selain menyoroti bahaya bullying, Wabup Fajar juga mengingatkan pentingnya pengawasan terhadap penggunaan media sosial dan teknologi digital.
Ia meminta orang tua dan tenaga pendidik untuk terus mendampingi anak-anak agar tidak terpengaruh oleh konten negatif yang dapat memicu perilaku menyimpang maupun kekerasan.
"Teknologi harus digunakan untuk belajar, berkreasi, dan meningkatkan kemampuan diri. Jangan sampai justru menjadi sarana untuk menyakiti atau merundung orang lain," ucapnya.
Terakhir, Fajar berharap para santri yang telah menyelesaikan pendidikan MDT Ula dapat tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berakhlak, serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi sebagai bekal menyongsong Indonesia Emas 2045.
( Edy ms).